Google BlogLarantuka NewsBar

IN THE STEPS OF JESUS: Menapak Jejak Mesias

Buku ini tidak hanya sangat membantu umat yang akan napak tilas hidup dan karya Yesus dalam peziarahannya ke Tanah Suci, tetapi justru membuka kesempatan berziarah bagi mereka yang tidak pernah sempat berangkat ke sana.

Dengan kamera dan uraiannya, Walker mengantar kita ke empat belas kota atau daerah di tanah Palestina, mulai dari Betlehem dan berakhir di Emaus. Diperlihatkan bagaimana keadaan tempat-tempat itu pada zaman Yesus sendiri dan juga apa yang akan ditemukan kalau kita mengunjungi tempat-tempat itu pada masa sekarang.

Buku ini adalah suatu peziarahan sendiri: Menapak jejak Yesus di tanah asal-Nya!(Size: 24 x 29 cm cm)


Harga retail :Rp. 300.000,-
Harga kami :Rp. 270.000,-
Anda menghemat :Rp. 30.000,-  (10%)



Senakel.com
Inspiring Your Spiritual Growth

SENAKEL berasal dari kata latin Cenaculum atau dalam bahasa Inggris disebut The Upper Room, yang berarti ruang atas tempat Yesus mengadakan Perjamuan Terakhir bersama para muridNya. Ruangan atas ini adalah juga tempat yang dipakai oleh para murid dan Bunda Maria untuk berkumpul dan berdoa memohon dicurahkannya Roh Kudus kepada mereka ( peristiwa Pentakosta)

“SYSTER CITY” : LARANTUKA, INDONESIA – FATIMA, PORTUGAL

Sudah beberapa kali tawaran kerja sama dari Pemerintah Portugal  untuk menjadikan Fatima dan Larantuka sebagai Kota Kembar belum juga mendapat respon positif dari Pemerintah Indonesia.  Namun setelah mendapatkan tawaran berdasarkan surat Kedutaan Besar Republik Indonesia di Lisabon, Portugal pada tanggal 09 Maret 2011 tentang Penjajakan Kerja Sama Kota Kembar, maka baru mendapat respon dari Pemerintah Indonesia.

Pada tanggal 06 April 2011 di Jakarta, Pemerintah Kabupaten Flores Timur (Pemkab Flotim) bersama dengan Kementrian Dalam Negeri, Kementrian Sekretaris Negara, Kementrian Pariwisata, Kedutaan Besar Portugal di Indonesia, dan Kedutaan Besar Indonesia di Portugal, membahas rencana kerja sama Kota Kembar tersebut.  Dari pertemuan tersebut menghasilkan draft Mou Kota Kembar antara Pemerintah Kabupaten Flores Timur dan Pemerintah Kota Fatima.

Dalam pertemuan ini, Pemerintah Kabupaten Flores Timur menyatakan kesediaan untuk melakukan kerja sama dengan tetap mengikuti berbagai ketentuan mengenai mekanisme kerja sama internasional.  Kesediaan tersebut dijelaskan lebih lanjut oleh Bupati Flotim; Yoseph L. Herin, dengan beberapa pertimbangan untuk kemajuan dan kesejahteraan masyarakat Flores Timur.  Pertimbangan kerja sama tersebut berdasarkan atas aspek budaya, pariwisata, pendidikan, dan sosial ekonomi.


Selanjutnya pada tanggal 09 September 2011, pada sidang paripurna III Dewan Pimpinan Rakyat Daerah (DPRD) Flores Timur, Bupati Flotim; Yoseph L. Herin, memberikan penjelasan kepada anggota DPRD Flotim tentang naskah kerja sama Kota Kembar tersebut.  Dari hasil penjelasan tersebut, DPRD Flotim setuju dan sangat mendukung rencana kerja sama “Syster City” ini.  Namun melalui Ketua DPRD Flotim; Marius Payong Pati, menyarankan agarsebaiknya sebelum menandatangani memorandum of understanding (MoU) atau nota kesepahaman tersebut, Pemkab Flotim perlu melakukan pertemuan bersama dengan semua pemangku kepentingan di Flores Timur untuk membahas lebih dalam mengenai rencana kerja sama tersebut.

PHPU Kepala Daerah Kab. Flores Timur: Lagi, Saksi Ungkap Keterlibatan PNS

Jakarta, MKOnline - Dugaan keterlibatan Gubernur Nusa Tenggara Timur, Frans Lebu Raya, dalam mendukung kemenangan Pihak Terkait (pasangan calon Yoseph Lagadoni Herin-Valentinus Tukan) kembali diungkapkan oleh para saksi Pemohon perkara nomor 72/PHPU.D-IX/2011. Menurut Fransiskus, yang sehari-harinya sebagai kepala desa, menyatakan bahwa Gubernur pernah meminta dirinya untuk “mengamankan suara” untuk Paket Sonata (sebutan bagi Pihak Terkait).

Senada dengan keterangan tersebut, Yohanes, menuturkan, pernah ada kunjungan Gubernur ke daerah Waitukan. Dalam kunjungannya, Gubernur lagi-lagi menyatakan bahwa dirinya secara pribadi mendukung Paket Sonata. Bahkan, lanjutnya, Gubernur sempat berpesan kepada para tokoh masyarakat dan agama disana untuk meminta warga menyukseskan Paket Sonata.

Saksi lainnya, Frans Nikolaus, mengungkapkan bahwa keterlibatan Pegawai Negeri Sipil (PNS) tidak hanya oleh para pejabat pemerintahan saja, melainkan juga sampai pada tingkat bawah. Salah satunya adalah seorang guru di wilayah tempat tinggalnya. Menurut kesaksiannya, guru tersebut mendatangi rumah warga untuk mengajak memilih Pihak Terkait. “Diarahkan untuk memilih (pasangan calon) nomor dua,” tutur Frans menirukan pernyataan sang pemilik rumah.

Begitupula kesaksian Robert. Menurutnya, pada tanggal 30 Mei 2011, pernah ada rombongan PNS dari Kupang mendatangi Flores Timur yang kemudian bertemu dengan para tim sukses Paket Sonata.

Sedangkan saksi Dominikus, menyatakan, ada pemberitaan di tabloid yang isinya menyudutkan calon Bupati Simon Hayon (Pemohon perkara no. 72). Menurutnya, pemberitaan yang menyatakan bahwa Simon Hayon membawa ajaran sesat adalah tidak benar. Ia menegaskan, Simon Hayon beragama Kristen, dan tidak pernah dinyatakan oleh pihak gereja keluar dari agama Kristen ataupun menyebarkan ajaran sesat. Akibat pemberitan ini, kata dia, pasangan calon Simon Hayon-Fransiskus Diaz Alffi, kalah telak di daerah Larantuka Kota. Untuk diketahui, Simon Hayon dalam tabloid tersebut diberitakan telah menganggap dirinya sebagai Isa Almasih dalam konteks agama Kristen, dan Imam Mahdi dalam konteks agama Islam.

Untuk persidangan selanjutnya, akan digelar Senin (27/6) pagi. Dengan agenda sidang, mendengarkan keterangan saksi Pemohon perkara No. 73/PHPU.D-IX/2011, yang dimohonkan oleh Felix Fernandes-Ismail Arkiang, serta saksi Termohon dan Pihak Terkait.

PHPU Kepala Daerah Kab. Flores Timur: Saksi Pihak Terkait Bantah Keterlibatan Gubernur

Jakarta, MKOnline - Kepala Inspektorat Kabupaten Flores Timur, Ahmad Betan, memberi kesaksian dalam perkara Perselisihan Hasil Pemilihan Umum Kepala Daerah Kab. Flores Timur (Flotim), Selasa (28/6) di Ruang Sidang Pleno MK. Ahmad mengungkapkan bahwa kesaksian para saksi Pemohon dalam persidangan sebelumnya adalah tidak benar. Dalam persidangan, Ahmad dihadirkan oleh Pihak Terkait, pasangan calon Yoseph Lagadoni Herin-Valentinus Tukan (Paket Sonata).

Menurutnya, segala bantuan yang telah diterima oleh masyarakat merupakan bantuan resmi dari pemerintah daerah. “Bantuan berasal dari APBD (Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah),” ujarnya. Uang tersebut, kata dia, memang diperuntukkan untuk bantuan sosial kepada masyarakat.

Ia juga menampik tudingan bahwa bantuan tersebut dalam rangka memenangkan Paket Sonata. Begitupula terkait kunjungan kerja Gubernur Nusa Tenggara Timur, Frans Lebu Raya, ke berbagai daerah. Menurutnya, kunjungan tersebut juga tidak ada hubungannya dengan Pemilukada. “Hanya kebetulan saja bantuan diserahkan saat mau Pemilukada,” kata Ahmad.

Namun, ketika ditanya oleh Ketua Panel Hakim, Hakim Konstitusi M. Akil Mochtar, apakah dia mengetahui bahwa ada keputusan dari Menteri Dalam Negeri yang isinya meminta kepada kepala daerah untuk tidak membagikan bantuan sosial berdekatan dengan waktu Pemilukada, Ahmad menyatakan tidak tahu menahu. “Saya tidak tau, Pak,” jawabnya.

Sedangkan saksi Pihak Terkait lainnya, Kepala Bidang di Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Provinsi NTT, Mamun Patty, menerangkan bahwa gubernur NTT tidak pernah memerintahkan ataupun memobillisasi jajarannya (Pegawai Negeri Sipil) untuk mendukung salah satu pasangan calon, khususnya Pihak Terkait. Menurut Mamun, pertemuan antara gubernur dengan para camat merupakan hal yang biasa terjadi. Keterangan ini diutarakan untuk membantah keterangan saksi Pemohon sebelumnya yang menyatakan bahwa gubernur meminta kepada para camat untuk mendukung Paket Sonata.

Selain itu, dia membenarkan bahwa intensitas kunjungan pegawai pemprov ke Kab. Flores Timur yang cukup tinggi. Namun, menurutnya, hal itu dilakukan dalam rangka menyukseskan program Desa Mandiri ‘Anggur Merah’. “Anggur Merah itu Anggaran Untuk Rakyat Menuju Sejahtera,” jelasnya. Program ini didanai langsung dari APBD pemerintah Provinsi. Per desa mendapat Rp. 250 juta.

Senada dengan keterangan Mamun, saksi Petrus dan Valentinus, yang masing-masing merupakan Camat Tanjung Bunga dan Camat Adonnara Barat, membenarkan pernah bertemu dengan Gubernur. Namun, menurut mereka, dalam pertemuan tersebut Gubernur tidak pernah meminta untuk mendukung Paket Sonata. Menurutnya, hanya tiga hal yang dibicarakan saat itu: terkait pemekaran daerah Kabupaten Adonara, menanyakan kebijakan Anggur Merah, dan meminta beberapa kebutuhan di tingkat kecamatan. Bahkan, Petrus membantah telah mengancam kepala desa di wilayahnya. “Tidak pernah,” tegasnya.

Sedangkan Thomas Koten, menegaskan bahwa dirinya tidak pernah melakukan bagi-bagi uang dalam rangka memenangkan salah satu pasangan calon. “Nama baik saya dicemari,” ungkapnya. Saat ini, Thomas juga telah melaporkan orang yang mengatakan hal itu ke pihak yang berwajib. Pada kesempatan yang sama, seluruh saksi Pihak Terkait juga telah membantah kesaksian para saksi Pemohon sebelumnya.

Disadur oleh BlogLarantuka dari situs:

Kisah Penculikan Pastor dan Dokter

PRAKATA


Beberapa bulan yang lalu saya didatangi oleh seseorang yang katanya berasal dari Sulawesi Tengah. Saya baru kenal saat itu, sebelumnya tidak. Beliau datang bersama seorang konfrater saya yang sudah cukup lama bertugas di Sulawesi. Mereka datang untuk memintaku agar mau menceriterakan kejadian penculikan yang kualami bersama seorang dokter yang bertugas di daerah tersebut beberapa puluh tahun silam.  ”Ah, apalagi yang masih kuingat karena pengalaman itu terjadi sudah begitu sangat lama?” Namun karena ikatan emosional dengan kisah itu, akhirnya saya memutuskan untuk mencari penggalan catatan-catatan yang pernah kubuat dan kusimpan rapih di lemari kerjaku. Nah, itulah awal mula mengapa saya menceriterakan kembali peristiwa tersebut.

Waktu itu tahun 1949 sebagai orang muda saya diutus sebagai misionaris ke suatu daerah di Sulawesi Utara yang amat cantik dan indah seperti surga layaknya, yakni Minahasa. Seperti namanya yang cantik, Minahasa saya kira hingga kini pun masih tetap cantik. Apalagi kalau kuingat keramahan penduduk Minahasa yang bisa meluluhkan hati setiap orang yang mengunjunginya. Di daerah ini saya bertugas untuk beberapa tahun.  Setelah beberapa tahun tinggal di Minahasa dan tentunya  mengenal lebih baik tempat ini,  saya dipindahtugaskan dan diangkat menjadi Pastor Paroki di Sulawesi Tengah.

Pada bulan Agustus 1955  saya tiba di Palu, yang waktu itu menjadi Ibu Kota Provinsi Sulawesi Tengah.  Sementara menunggu tempat tinggal yang tetap, saya ditempatkan di Palu. Waktu itu  saya  menginap di rumah seorang dokter dari Jerman yang saya tidak kenal sebelumnya. Namanya Dokter Georg Uhrmann. Nanti beliau akan menjadi salah satu tokoh yang penting dalam ceritaku  ini.  Dokter Uhrmann bertugas tidak hanya di kota Palu saja, tetapi juga mengelola sebuah klinik di Donggala, sebuah kabupaten yang indah.

Pada suatu kesempatan tanggal 13 Agustus 1955, saya ikut bersama dokter tersebut ke Donggala. Dalam perjalanan inilah kami mengalami kejadian yang begitu menegangkan serta menakutkan selama hidupku. Pengalaman ini begitu membekas dalam diriku, menorehkan luka amat dalam pada diriku, dan menimbulkan kepahitan dalam hidupku.  Dalam perjalanan ke Donggala kami diambil secara paksa oleh kelompok Islam radikal waktu itu, yaitu Darul Islam. Dalam peristiwa penculikan ini, bersama dokter saya sungguh mengalami ketegangan-ketegangan yang sangat menakutkan. Sembilan hari dalam penculikan kami sudah merasa seperti berada dalam api pencucian, antara hidup dan mati, walaupun saya sendiri belum tahu bagaimana rasanya berada dalam api pencucian.

Melalui proses perundingan tertentu akhirnya kami dibebaskan. Dokter Urhmann ditampung dan dilindungi oleh pemerintah setempat untuk diberangkatkan menuju Makasar. Saya sendiri bermalam atau diinapkan di markas Komandan Militer untuk kemudian menunggu kesempatan dapat segera diberangkatkan dengan kapal ke Manado. Saya kemudian tinggal tidak lama di Minahasa, walaupun sebetulnya itulah tempat tugas saya. Mereka berpendapat lebih baik saya mengambil cuti untuk menenangkan diri. Selesai cuti, demi keamanan saya ditugaskan di Pulau Jawa. Dalam cuti tersebut, saya berkesempatan bertemu dan menginap di rumah Dokter Uhrmann di Munchen. Dan setelah pertemuan tersebut, kami pun masih saling berkirim surat. Namun setelah sekian lama, saya tidak dapat menghubungi beliau lagi. Sungguh sangat sayang sekali .…Saya mencari informasi dari dokter yang lain, tetapi tetap tidak berhasil menghubunginya lagi. Dan saya sendiri masih berkesempatan 2 kali kembali ke Indonesia khususnya ke Pulau Jawa. Saya menyesal karena tidak bisa berpamitan dengan orang-orang yang selama ini sungguh saya kenal dengan baik. Kemudian saya dihadapkan pada pilihan untuk datang dan berkunjung untuk keempat kalinya atau tidak, tetapi saya merasa sudah tidak sanggup lagi.

Akhir kata, saya sungguh sangat berterima kasih kepada tamu saya yang datang jauh-jauh dari Palu dan konfrater saya Pastor Cor van Bavel MSC. Berkat campur tangan beliau berdualah saya bisa dan berkesempatan untuk dapat menceriterakan kisah nyata ini.


Pada Pesta Maria Diangkat ke Surga
Sittard, 15 Agustus 2006
Joos Jötten MSC

Kisah Penculikan Pastor dan Dokter
Joos Jotten MSC
Harga retail :Rp. 60.000,-
Harga kami :Rp. 54.000,-
Anda menghemat :Rp. 6.000,-   (10%)

 
Inspiring Your Spiritual Growth


Berita Katolik:

BUNDA REINHA - Film Dokumenter Metro TV

Kurs Rupiah:

BlogLarantuka Paypal:

 
!-- START OF ADDME LINK --> Search Engine Submission - AddMe