Google BlogLarantuka NewsBar

Tampilkan postingan dengan label Semana Santa. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Semana Santa. Tampilkan semua postingan

Prosesi Semana Santa di Kota Reinha Rosari (Larantuka)

Oleh :
Rizki Zulfitri, S.Pd
Sarjana Pendidikan Olah Raga
Guru SM-3T Aceh



Flores seakan tidak henti memamerkan pesonanya. Kaya akan tradisi adat dan budaya serta keindahan panorama alam nan eksotis. Mulai dari Pulau Komodo di Labuhan Bajo hingga menikmati indahnya “surga” di Danau Kelimutu. Salah satu wisata yang yang juga tidak boleh anda lewatkan saat berkunjung ke Flores adalah prosesi Semana Santa di kota Reinha Rosari.

Terletak di wilayah paling timur pulau Flores, Kota Reinha Rosari atau yang lebih dikenal dengan nama Larantuka merupakan pusat pemerintahan kabupaten Flores Timur. Untuk menuju daerah tersebut, penulis yang berada di kabupaten Lembata (penempatan tugas SM-3T) harus menggunakan kapal motor penyeberangan antar pulau yang dapat ditempuh dalam waktu tiga jam perjalanan laut.

Reinha Rosari banyak tersimpan sejarah, pengaruh kolonial Portugis yang sudah menguasai kawasan ini pada Abad XVI sangat kental. Warisan Portugis yang sampai terasa saat ini adalah agama Katolik dan tradisinya yang dianut penduduk asli Reinha Rosari. Bisa dikatakan Reinha Rosari adalah salah satu tempat di mana agama Katolik berkembang di Indonesia.

Ada ungkapan Larantuka adalah serambinya Roma. Melihat fakta sejarah bahwa Larantuka merupakan tempat di mana Agama Katolik yang berpusat di Vatikan-Roma masuk di tanah air lewat misionaris asal Portugis pada abad ke XVI. Ungkapan itu cukup masuk akal bila kita mau menelusuri masih adanya gedung-gedung peninggalan Portugis seperti Gereja Katedral di pusat kota Larantuka. Gereja yang sangat megah berarsitekturkan Eropa kuno, sekilas kita seakan sedang berada di kota Roma.

Frans dan Esthon Jalani Paskah di Larantuka

Gubernur dan Wakil Gubernur  NTT, Drs. Frans Lebu Raya  dan  Ir. Esthon Foenay, yang baru
bersaing dalam pentas Pemilu Gubernur (Pilgub) NTT 2013,  Kamis (28/3/2013),  akan tiba di Larantuka, Kabupaten Flores Timur. 

Keduanya bersama istri masing-masing berada di  Kota Reinha untuk mengikuti prosesi Semana Santa dan merayakan Paskah.  Frans Lebu Raya bersama istri, Ny. Lusia Adinda Dua Nurak Lebu Raya akan menjadi tuan mardomu di Kapela Tuan Ma pada perayaan Semana Santa 2013. 

Tamu lainnya Sekda NTT, Frans Salem, S.H, Kepala BPS Propinsi NTT dan beberapa Kepala BPS kabupaten di daratan Flores serta sejumlah pejabat lainnya.  Ketua Panitia Pekan Suci Gereja Katedral Larantuka, Petrus Pedo Beke mengatakan hal itu kepada wartawan di Larantuka, Selasa (27/3/2013).  Ia menjelaskan, para tamu umumnya sudah tiba di Larantuka dan telah mengikuti sejumlah kebaktian gereja.

Sementara  Dirjen Bina Kefarmasian dan Alat Kesehatan Kementerian Kesehatan RI, Dra. Maura Sitanggang, Apt, Phd sudah lebih dahulu datang ke Larantuka dan memberikan bantuan  obat-obatan, spanduk posko P3K, tenda, rompi P3K dan sejumlah bantuan lainnya.  Maura tiba di Larantuka, Senin (25/3/2013) diterima Bupati Flotim, Yoseph Lagadoni Herin, Kadis Kesehatan, dr. Yoseph Usen Aman, Direktur RSUD, Emanuel Lewar dan Kasubag Humas, Dominggus Tibo. Usai  menyerahkan bantuan, Maura mengunjungi RSUD Larantuka dan Kantor Dinas Kesehatan Flotim.

Di Kantor Dinas Kesehatan Flotim, Maura  mengunjungi sekretarit 2H2 Center dan ngobrol dengan para petugas 2H2. Usai dari kantor-kantor pemerintah, Maura mengunjungi posko P3K Semana Santa, Gereja Katedral, Kapela Tuan Ma, Kapela Tuan Ana dan Tuan Menino.

Dari panitia Semana Santa diperoleh informasi sebanyak 1.210 peziarah diperkirakan sudah berada di Kota Larantuka untuk merayakan pekan suci Semana Santa di Kota Reinha (Kota Suci) Larantuka. Umumnya para peziarah berada di rumah-rumah penduduk warga Larantuka.

Para peziarah datang dari Jakarta 159 orang pada posisi terakhir, Senin (25/3/2013), Samarinda 82 orang, Medan lima orang, Surabaya satu orang, Kupang 819 orang, Ende 10 orang, Kalimantan 40 orang, Malang 60 orang, Maumere 13 orang, Makassar 21 orang. Diperkirakan tamu akan terus bertambah pada hari H menjelang prosesi laut mengantar Salib Mesias Anak Allah.

Petrus Pedo Beke yang dihubungi, Senin (25/3/2013) mengatakan, saat ini
tamu yang sudah mendaftar posisi terakhir Senin (25/3/2013),  sebanyak 1.000 orang lebih. Para peziarah masih terus bertambah pada hari-hari berikutnya.  "Umumnya tamu-tamu yang mendaftar di panitia Gereja Katedral menginap di rumah-rumah warga. Tamu pemerintah diurus pemerintah. Tamu diperkirakan masih terus bertambah," kata Petrus Pedo yang juga Kepala Kantor Kementerian Agama (Kamenag) Kabupaten Flotim.

Ia  menjelaskan, dalam acara pekan suci Semana Santa,  panitia Gereja Katedral juga melibatkan pemuda lima agama, Katolik, Islam, Protestan, Hindu dan Budha untuk menjaga keamanan pada perayaan prosesi Semana Santa dan kebaktian-kebaktian di gereja.

Dalam perayaan pekan suci,  kata Petrus, umat pada hari Sabtu (23/3/2013) sudah mulai melaksanakan misa anak-anak dan pada Minggu (24/3/2013) misa Minggu Palma,  di mana umat keliling gereja membawa daun palma mengenang dan memperingati Yesus masuk ke Kota Yerusalem sebagai raja dan menerima penderitaan.

Pada hari Senin (25/3/2013),  usai misa umat melakukan pembersihan dan penataan Kapela Tuan Ma dan perlengkapannya dan pada Selasa (26/3/2013) pembersihan Kapela Tuan Ana dan selanjutnya jalan Salib di Stadion Ile Mandiri.

Pada Rabu (27/3/2013),  umat melakukan tikam turo dan selanjutnya penutupan jalur jalan raya sepanjang rute prosesi mulai dari Gereja Katedral hingga  Kapela Tuan Ana, Tuan Ma dan di armida-armida sebagai tempat pemberhentian.  "Pada Rabu selain tikam turo, juga dilakukan penutupan mengaji Semana Santa di Kapela Tuan Ma dan Tuan Ana,  juga Lamentasi. Usai Lamentasi di seluruh Kota Larantuka dibunyikan bunyi-bunyian selama 15 menit sambil berteriak `trewas...trewas' sebagai tanda masuk dalam perkabungan Yesus selama Tri hari Suci," tutur Petrus.

Pada Kamis (28/3/2013),  lanjut Petrus,  pemberkatan  minyak suci dan pembaharuan janji imamat di Gereja Katedral. Selanjutnya pintu Kapela Tuan Ma dan Kapela Tuan Ana dibuka dan kesempatan umat mencium Tuan Ma dan Tuan Ana  hingga sore.  Pada sore hari Kapela Tuan Ma dan Tuan Ana ditutup untuk memberikan  kesempatan kepada umat dan peziarah menghadairi misa Perjamuan Tuhan. 

Selanjutnya pada Jumat (29/3/2013) pagi,  hingga siang hari prosesi jalan salib menghantar Tuan Meninho melalui laut.  Pada sore harinya dilakukan upacara kebaktian wafat Tuhan dengan prosesi menghantar Tuan Ma dan Tuan Ana ke Gereja Katedral hingga pada malam harinya prosesi Iman Jumat Agung mengelilingi Kota Larantuka.

Selama prosesi ini umat menyinggahi armida-armida dan berakhir pengantaran kembali Patung Tuan Trewa ke Tori Tuan Trewa dan pada Sabtu ibadat singkat dengan prosesi menghantar kembali Patung Tuan Ma dan Tuan Ana dilanjutkan ziarah dan cium Tuan Ma dan Tuan Ana.

Kapal ASDP NTT Mulai Angkut Peziarah ke Larantuka

PT Angkutan Sungai, Danau, dan Penyeberangan (ASDP) Indonesia Ferry Cabang Kupang, Nusa Tenggara Timur (NTT) menambah frekuensi pelayaran untuk mengangkut peziarah ke Larantuka, Kabupaten Flores Timur.

Penambahan frekuensi pelayaran berlangsung sebanyak tiga kali yakni pada pelayaran Minggu (24/3), Rabu (27/3) dan Kamis (28/3). Peziarah akan menghadiri prosesi Jumat Agung yang digelar di Larantuka. 

"Terjadi ledakan jumlah penumpang sehingga frekuensi pelayaran ditambah dari sebelumnya satu kali menjadi dua kali," kata Pelaksana Manager Usaha PT ASDP Indonesia Ferry Cabang Kupang Hermin Welkis di Kupang, Selasa (26/3).

Ia mengatakan armada yang mengangkut peziarah ke Larantuka tetap berada di sana untuk mengangkut peziarah kembali ke Kupang setelah mengikuti proses Jumat Agung. "Artinya jadwal kapal sudah disiapkan pergi pulang untuk para peziarah yang mengikuti prosesi Jumat Agung di Larantuka," ujarnya.

Prosesi Jumat Agung adalah tradisi sakral dalam agama Katolik untuk memperingati wafatnya Yesus kristus. Tradisi keagamaan yang merupakan warisan Portugis itu sudah berlangsung lebih dari 500 tahun ketika Portugis menyebarkan agama Katolik dan berdagang cendana di Kepulauan Nusa Tenggara.

Prosesi Jumat Agung diawali dari perayaan Rabu Trewa yang tahun ini jatuh pada Rabu (27/3). Trewa dalam tradisi Gereja Katolik artinya bunyi-bunyian, namun ritual keagamaan yang satu ini, sudah jarang dilakukan oleh Gereja Katolik lainnya, kecuali gereja-gereja Katolik yang ada di wilayah Keuskupan Larantuka, yang terbentang mulai dari Flores Timur daratan, Pulau Adonara, Solor dan Lembata.

Disadur dari:

Jumat Agung di Serumpun Kapela

(Photo by BlogLarantuka)
Kerudung hitam menutupi kepala Mari Elka Pangestu. Di atas sebuah sampan, kedua telapak tangannya terus bersiaga, menjaga sebatang lilin di depannya supaya tidak padam.

Siang itu, Jumat (6/4), arus kuat tidak menghalangi rangkaian prosesi Semana Santa, pekan suci bagi umat Katolik di Larantuka, Kabupaten Flores Timur, Nusa Tenggara Timur. Perahu yang ditumpangi Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif sering bergoyang karena terpaan air laut. Empat pria yang mengayuh perahu pun dengan cekatan melabuhkannya di Pantai Kuce, Kecamatan Larantuka.

Sang menteri kebagian berada di perahu, mengapit patung Tuhan Yesus Wafat di Salib. Patung dibawa dari Kapela Tuan Meninu, Kota Rowido, Kelurahan Sarotari Tengah, yang berjarak sekitar 3 kilometer dari Pantai Kuce.

Doa penuh harapan dipanjatkan sepanjang prosesi. Tidak hanya oleh umat yang berada di sejumlah perahu, tapi juga peziarah yang menanti di sepanjang tepian pantai.

"Semua ornamen yang disimpan di sejumlah kapela, seperti Tuan Menino, salib, salib Mesias Anak Allah, patung Tuan Misericordiae, serta patung Tuan Trewa dan Salib Yesus diantar ke armida, tempat peristarahatan," kata panitia pekan suci paroki Katedral Larantuka, Bacenti.

Patung Tuan Ma (Bunda Maria) dan patung Tuan Ana (Yesus) dibawa dari kapel masing-masing ke Gereja Katedral Reinha Rosari untuk diarak mengelilingi kota, malam harinya.

Arak-arakan melalui delapan armida atau penghentian. Itu ialah lambang perjalanan hidup Yesus, sebelum dia disalibkan dan mati.

Sambil berjalan, warga dan peziarah terus mendaraskan Salam Maria dan kidung rohani O Vos atau ratapan derita Yesus. Jumat Agung yang menjadi puncak rangkaian Semana Santa itu berakhir Sabtu, sekitar pukul 02.45 WIT.

Semana Santa adalah pekan suci yang berlangsung satu pekan di Larantuka. Dimulai dari Minggu Palem sampai Minggu Paskah. Ritual peninggalan bangsa Portugis itu sudah berlangsung selama 500 tahun.

Tidak mengherankan jika semua tradisi, ornamen, dan perlengkapan yang digunakan dalam prosesi sangat kental dengan warisan Portugis. Bahasa yang sama juga digunakan dalam doa dan kidung pujian.

Sebelum Jumat Agung, prosesi yang menonjol ialah Rabu Trewa, yang jatuh pada Rabu. Saat itu, umat mengikuti misa di gereja, menutup jalan raya, memasang kayu tempat lilin di sepanjang jalan sejauh 6 kilometer, dan membuat armida.

Ratusan pemuda Katolik melakukan parade bunyi-bunyian (trewa) di sejumlah ruas jalan di dalam Kota Larantuka. Mereka berparade di depan Istana Raja Don Lorenzo Larantuka dengan menabuh seng, besi, dan pipa selama 15 menit.

"Tradisi ini bermakna manusia yang penuh dosa harus bertobat dan kembali ke jalan Allah. Ini saat penting bagi umat untuk siap menghadapi trihari suci," tutur tokoh Larantuka, Yohanes Fernandez.

Sehari sebelum Jumat Agung, Kamis Putih, dilakukan pemberkatan minyak suci, pembaruan imamat dan janji para imam yang berlangsung di Gereja Katedral.

Pada hari yang sama, digelar upacara Muda Tuan Ma dan Tuan Ana. Pintu Kapela Tuan Ma dibuka dan selanjutnya penakhtaan Patung Tuan Ma dan upacara cium Tuan Ma. Sore harinya dilakukan misa di Gereja Katedral yang dilanjutkan dengan adorasi umum Sakramen Mahakudus.

Kamis Putih juga diisi dengan ziarah ke sejumlah situs rohani dan kapela, di antaranya kapela di tanah Wure, Kecamatan Adonara Barat, dan Kapela Tuan Meninu di Kota Rewido.

Polemik

Dua tahun lalu, pada 2010, Semana Santa berlangsung sangat istimewa karena prosesi itu tepat berusia 500 tahun. Tahun ini, prosesi juga berlangsung beda karena untuk pertama kalinya diarak patung Tuan Ma duplikat.

Sempat menjadi perdebatan, tetapi secara arif Uskup Larantuka Monsignor Frans Kopong Kung mampu menengahinya. "Patung asli tidak mungkin diarak keliling Kota Larantuka. Usia patung sudah lebih dari lima abad dan kondisinya sudah sangat keropos," tuturnya.

Tidak sedikit warga yang belum bisa menerimanya. "Penggunaan patung dupikat Tuan Ma mengurangi kesakralan perayaan. Ada warga yang menjadi apatis sehingga tidak mau terlibat langsung dalam persiapan fisik perayaan," ujar Jefri Ofong, warga Larantuka.

Sekalipun ada polemik, seperti tahun-tahun sebelumnya, Semana Santa di Larantuka masih jadi magnet bagi ratusan ribu umat Katolik dari berbagai pelosok Indonesia dan dunia. Mereka datang dari berbagai daerah di Nusa Tenggara Timur. Tidak sedikit juga yang berasal dari Jakarta, Jawa Timur, Jawa Barat, Bali, Papua, dan Sumatra Utara. Sejumlah pelancong dari luar negeri pun tidak ingin melewatkannya.

Karena itu, seluruh penginapan di Larantuka pun penuh. Banyak peziarah yang tidak kebagian penginapan sehingga harus rela menginap di rumah penduduk.

Saat hadir selama dua hari di Larantuka, Kamis Suci dan Jumat Agung, Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Mari E Pangestu sepakat Semana Santa harus dilestarikan. "Di negeri asalnya, Portugis, Semana Santa sudah tidak ada. Ini bisa menjadi wisata religi kelas dunia," tuturnya.

Seorang tokoh Larantuka, Bernardus Tukan, mengungkapkan Semana Santa bukan sekadar prosesi bagi umat Katolik. Dia merupakan peristiwa budaya religius.

"Jauh sebelum agama dibawa masuk ke Flores, warga menyatu dalam ikatan kultur. Ada budaya Lamaholot yang kami pegang dan terapkan," kata dia, beberapa waktu lalu.

Karena itu, ketika masyarakat terpecah karena masalah agama, di Larantuka warga tetap menyatu. Tidak mengherankan ketika Semana Santa dilakukan masyarakat Katolik, baik umat Islam, Kristen, Buddha, maupun Hindu selalu menunjukkan dukungan mereka. Ada hantaran dengan beragam makanan yang mereka bawa, mulai beras, kelapa, pisang, hingga sayuran, untuk kebutuhan pesta. Budaya Lamaholot mengajarkan mereka untuk berbagi, berpartisipasi, dan membangun tekad bersama. 

Disadur dari:

Larantuka Siap Jadi Objek Wisata Religi Kristiani

Bertepatan dengan hari Paskah yang jatuh pada hari ini, Menparekraf, Mari Elka Pangestu, berkunjung ke Larantuka, Flores Timur.  Dalam kunjungannya, ia mengatakan rencananya untuk mengembangkan Larantuka sebagai objek wisata religi.

"Kami memang akan mengembangkan Larantuka sebagai objek wisata religi karena ada banyak ikon-ikon kerohanian, seperti Tuan Ma dan Tuan Ana," kata Mari pada obrolan singkat bersama detikTravel di Larantuka, Flores Timur, Jumat (7/4/2012).

Pada hari raya Paskah ini, Larantuka memang menjadi tempat tujuan umat kristiani untuk beribadah. Di sini, ada banyak gereja dan tempat ibadah bersejarah. Melihat kesempatan itu, Parekraf pun mengambil langkah untuk menjadikan Larantuka sebagai objek wisata religi.

"Nantinya, pengembangan objek wisata religi di Larantuka akan terus dikembangkan, tidak hanya pada saat paskah seperti ini saja, tetapi juga bulan lain, seperti retret," jelas Mari.

Rencananya, wisata rohani akan dikembangkan melalui retret dan wisata penyembuhan bagi umat yang sakit. Selain itu, keindahan alam Flores juga akan dijadikan daya tarik lebih untuk para wisatawan.

"Saat paskah seperti ini, Semana Santa yang rutin dilakukan di Flores akan terus dikembangkan, karena di Portugal sendiri yang merupakan negara asal Semana Santa sudah tidak diadakan lagi," tambah Mari.

Ya, Flores memang merupakan salah satu daerah jajahan Portugis. Ada banyak peninggalan sejarah dan keagamaan yang bisa dilihat di Larantuka, Flores Timur. Salah satunya adalah patung Tuhan Yesus atau Tuan Ana dan patung perawan atau Tuan Ma.

Umur patung-patung tersebut tidaklah muda, tetapi sudah melampaui 5 abad. Semana Santa merupakan salah satu peninggalan portugis yang masih melekat di hati warga Flores.

Semana Santa merupakan acara puncak di Jumat Agung. Pada upacara ini, Tuan Ma dan Tuan Ana akan diperlihatkan kepada umat, karena selain hari paskah kedua patung tersebut tidak diperlihatkan. Kemudian, perayaan akan dilanjutkan dengan penyalaan lilin, dan prosesi keliling Larantuka.

Disadur dari:


DUBES PORTUGAL INGIN JADI WARGA LARANTUKA

Pada Kamis malam (21/4/2011) masih dalam rangkaian acara Semana Santa Larantuka 2011, saat open house di rumah jabatan Penjabat Bupati Flores Timur (Flotim), dihadiri oleh banyak peziarah. Di antaranya  Sony Keraf dan keluarga, Deputi Badan Meterorologi (BMG), keluarga Goris Mere dan puluhan peziarah lain. termasuk rombongan Gubernur Nusa Tenggara Timur (NTT); Drs. Frans Lebu Raya dan istri bersama para pejabat  Pemerintah Provinsi NTT.

Penjabat Bupati Flotim; Drs. H. Muhammad S. Wongso dalam sambutannya mengucapkan terima kasih kepada Dubes Porugal bersama istri yang juga didampingi oleh mantan Dubes Indonesia untuk Portugal; Haryono, para tamu kenegaraan dan pemerintahan, dan juga kepada para peziarah yang telah datang untuk mengikuti prosesi Semana Santa di Larantuka.  "Bawalah khabar gembira dari Kota Larantuka ke tempat masing-masing.  Sampaikan khabar bahwa Kota Larantuka penuh damai.  Kota kecil yang menjadikan perbedaan untuk membangun Indonesia dan Flores Timur," kata Wongso.

Dubes Portugal; Carlos Manuel Leiato Frota mengatakan, ia bersama istrinya; Ny. Arlinda Chavez Frota sudah tiga kali ke Larantuka mengikuti prosesi Samana Santa.  "Pertama saya datang tiga tahun lalu lebih resmi mengurus proyek.  Kali kedua saya datang bersama Emeritus Fatima; Mgr (Seinhor D. Serafim) Uskup Fatima; Mgr. Luciano Gurera, dan kali ketiga saya datang ditemani teman spiritual saya; Haryono. Saya juga menemukan seorang muslim di rumah ini (rumah jabatan).  Saya sangat bahagia dan sangat senang di Flotim. Walaupun ada perbedaan tetap satu sebagaimana falsafah Pancasila," kata Carlos Manuel disambut tepuk tangan.

Keinginan Carlos Manuel dan Arlinda Chaves tinggal di Larantuka, karena ia menilai Larantuka adalah kota yang religius dan penuh toleransi.  "Saya ingin membuat rumah di Larantuka saat pensiun nanti.  Keinginan ini karena religiusnya Kota Larantuka yang membuat kami ingin menetap dan menjadi warga kehormatan," tutur Arlinda Chaves Frota, melalui penerjemahnya.

Istri Dubes Portugal; Nyonya Arlinda Chavez Frota mengaku sangat senang ke Larantuka mengikuti prosesi Samana Santa pada Jumat Agung.  Kesan itu setelah tiga tahun berturut-turut ia bersama suaminya ikut prosesi paskah di Larantuka.  Ny. Arlinda Chavez Frota, juga menyerahkan cindramata berupa sebuah lukisan pada piring yang dilukisnya sendiri saat mengikuti berbagai pameran di Jakarta.  Lukisan  itu bergambar Kapal Portugal yang datang ke Indonesia pada 500 tahun silam. Terhitung tahun 1511 - 2011. Lukisan khas yang sangat indah tersebut diterima Hj. Rosmini Semsi-Wongso.  Arlinda juga mengakui bahwa pada setiap tahun dari hasil lukisannya tersebut telah disumbangkan ke Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Larantuka.  "Hasil lukisan terjual disumbangkan ke RSUD Larantuka, kata istri Dubes Portugal yang berprofesi sebagai dokter ahli penyakit dalam dan juga pelukis tersebut.

Dubes Portugal pada akhir sambutannya, mendoakan Indonesia dan Flores Timur.  "Tuhan memberkati Indonesia dan Flotim," ujarnya singkat.

ABURIZAL BAKRIE MENYAKSIKAN LANGSUNG PROSESI SEMANA SANTA LARANTUKA 2011

Larantuka, BlogLarantuka.
Ketua Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Partai Golkar; Aburizal Bakrie bersama Setyo Novanto dan Rizal Malaranggeng tiba di Bandara Gewayantanah Larantuka pada 22 April 2011 dalam salah satu rangkaian agenda kegiatannya untuk menyaksikan secara langsung Prosesi Semana Santa Larantuka 2011.

Aburizal Bakri dan rombongan, terpesona menyaksikan ribuan umat melakukan perarakan patung Tuan Meninho (Yesus Kanak-Kanak) dari Kapelnya di Pantai Palo di Kelurahan Sarotari menuju Pantai Kuce di Kelurahan Pohon Sirih untuk ditempatkan di Armidanya sebagai satu kesatuan dalam Prosesi Perarakan "Tuan Ana" (Yesus) dan "Tuan Ma" (Bunda Maria) yang akan berlangsung pada malam harinya. Prosesi perarakan melalui laut ini diikuti oleh ribuan umat dengan menggunakan puluhan hingga ratusan sarana transportasi laut dan semua peziarah melaksanakannya sungguh penuh dengan hikmad ke-Katolikan orang Larantuka.  Gubernur NTT; Frans Lebu Raya yang juga merupakan putra daerah turut bersama tokoh umat Katolik dan ribuan umat di Larantuka menghantar "Tuan Meninho" ke armidanya.

Tradisi Semana Santa atau Pekan Suci yang setiap tahun dirayakan di Larantuka pada perayaan Paskah bagi umat Katolik hanya ada di Larantuka - Kabupaten Flores Timur (Flotim).  Bahkan di Asia hanya ada di Indonesia. Untuk itu, prosesi keagamanan ini harus dijaga dan dipertahankan keasliannya.  "Tidak ada di seluruh Indonesia bahkan di Asia sekalipun seperti di  Larantuka.  Sejarah yang berjalan sejak 500 tahun antara Portugal dengan Indonesia khususnya di Larantuka dijaga baik.  Di Filipina dari Spanyol juga tidak sama dengan di Larantuka.  Karena itu, kita patut menjaga dan mempertahankannya," kata Aburizal Bakrie.

Ketua Dewan Pimpinan Pusat (DPP), Partai Golkar; Aburizal Bakrie mengatakan bahwa beliau mendukung upaya pemerintah, lembaga gereja dan masyarakat di Kabupaten Flores Timur, Nusa Tenggara Timur menjadikan Larantuka sebagai sister city dengan Lisabon, Portugal.

"Lisabon itu sudah maju, kalau Larantuka jadi sister city dengan Lisabon maka daerah ini akan cepat maju. Kita bisa saling tukar piikiran dengan pemerintahan di Lisabon untuk membangun Larantuka - Flores Timur," lebih lanjut dijelaskan Aburizal Bakrie.


Lima Kapal Feri Disiapkan Jelang Jumat Agung di Larantuka

PT. Ferry Indonesia Cabang Kupang, Nusa Tenggara Timur, menyiapkan lima kapal feri untuk mendukung kelancaran arus transportasi para peziarah yang akan mengikuti prosesi Jumat Agung di Larantuka pada 22 April.  "Lima kapal feri tersebut akan disiagakan  dari 17-25 April dan akan dioperasikan sesuai dengan permintaan," kata Kepala Operasional PT. Ferry Indonesia Cabang Kupang; Arnold Yansen, Sabtu (16/4), terkait kesiapan PT. Ferry mendukung kelancaran arus transportasi bagi peziarah ke dan dari Larantuka selama Semana Santa.

"Kami siagakan lima kapal feri untuk para peziarah yang akan menggunakan kapal laut ke Larantuka. Kapal-kapal tersebut bisa diberangkatkan sesuai dengan permintaan," kata Arnold. Artinya, imbuh dia, kalau ada seribu orang yang mau berangkat ke Larantuka dengan membawa serta kendaraan akan diberangkatkan dua atau tiga feri sekaligus. 

Berdasarkan pengalaman, para peziarah umumnya berangkat ke Larantuka mulai H-7 dan puncaknya pada H-4 karena prosesi Jumat Agung sudah dimulai pada H-2.  Pada hari-hari itu, permintaan para pengguna jasa transportasi laut sangat tinggi sehingga manajemen sejak dini melakukan antisipasi dengan menyiapkan kapal yang cukup. "Bahkan sejak dua bulan lalu, beberapa kapal sudah dikirim untuk menjalani perawatan dan kini sudah kembali ke Kupang. Jadi kalau soal kesiapan kapal, semuanya dalam kondisi siap."


Dia mengatakan, para peziarah dari seluruh Pulau Timor, Rote, Alor dan Sabu, umumnya berangkat ke Larantuka melalui Pelabuhan Bolok Kupang, sehingga semua kapal disiagakan di Pelabuhan Bolok.  Dalam keadaan normal penyeberangan Feri ke Pelabuhan Waibalun, Larantuka, ibu kota Kabupaten Flores Timur berlangsung dua kali dalam seminggu yakni Minggu dan Kamis.

Mengenai jadwal pelayaran, lebih lanjut Arnold mengatakan jadwal penyeberangan ini sifatnya tentatif, sewaktu-waktu dapat berubah berdasarkan kondisi yang terjadi di lapangan serta terkait permintaan penumpang baik sebelum maupun setelah prosesi Jumat Agung.


Disadur dari:


DUBES PORTUGAL HADIRI SEMANA SANTA LARANTUKA 2011

Larantuka, BlogLarantuka.
Pemerintah Portugal sangat menaruh simpati dan perhatiannya terhadap tradisi keagamaan "Semana Santa" atau Prosesi Jumad Agung di Kota Larantuka, ibu kota Kabupaten Flores Timur (Flotim).  Prosesi keagamaan Semana Santa ini kental dengan nuansa portugis sebab Kota Larantuka merupakan daerah koloni Portugis dan Larantuka bagaikan cahaya kecil di asia jauh bagi bangsa Portugis di era kolonialisasinya.

Bebebrapa tahun terakhir ini Pemerintah Portugal mulai menaruh perhatiannya kepada daerah bekas koloninya ini.  Melalui Duta Besar (Dubes) Portugal di Indonesia, mereka selalu menghadiri kegiatan Prosesi Semana Santa di Larantuka.  Begitupun dengan kegiatan Semana Santa 2011 ini, Dubes Portugal melalui Kantor Kedutaannya di Indonesia sudah menyurati ke Pemerintah Daerah (Pemda) Kabupaten Flores Timur bahwa mereka akan mengikuti Prosesi Semana Santa Larantuka pada 22 April 2011 yang akan datang. 

Pemda Flores Timur melalui Sekretaris Daerah (Sekda); Anton Tonce Matutina, sangat berterima kasih dan menyambut baik niat kedatangan rombongan Kedutaan Besar Portugal untuk Indonesia ini.  Anton Tonce Matutina yang juga selaku Ketua Panitia Perayaan Semana Santa Larantuka 2011 telah melakukan segala persiapan melalui rapat perdanaya dengan para Kepala Dinas dan Kepala Bagian di lingkup Pemerintahan Kabupaten Flores Timur dan juga dengan para pihak terkait lainnya seperti dari Polres Flotim, Kodim Flotim, dan juga Manajemen PT. PLN (Persero) Ranting Larantuka, serta PT. Telkom Larantuka.

Sebagaimana seperti kegiatan Semana Santa tahun-tahun sebelumnya, Pemda Flotim bersama dengan Panitia Perayaan Semana Santa Larantuka 2011 akan menyiapkan segala akomodasi termasuk hotel dan penginapan di Larantuka untuk menerima tamu-tamu yang akan datang ke Larantuka untuk mengikuti Semana Santa ini.  Pemda Flotim dan Panitia Perayaan bertekad bahwa kerja sama dan pelayanan mereka akan semakin baik, jauh lebih baik dan sempurna dari pada tahun-tahun Semana Santa sebelumnya.

BlogLarantukaKita orang "Nagi" (Larantuka) tentunya sangat mengharapkan kerja sama yang berkelanjutan antara Pemerintah Portugal dan Pemerintah Daerah Kabupaten Flores Timur.  Dan bentuk kerja sama ini semoga tidak sebatas untuk kegiatan Semana Santa saja, tentunya masih banyak bentuk kerja sama yang pada akhirnya untuk perkembangan Larantuka dan kesejahteraan masyarakat di Flores Timur.

Inspirasi Dari Kota Reinha Rosari

Suatu ketika, pada perayaan Paskah tahun 2009 lalu, Tuhan mengijinkan Vera, bersama suaminya, umat paroki Cijantung-Jakarta ini untuk ikut merayakan Paskah nun jauh di ujung Timur Pulau Flores, di Kota Reinha Rosari, Larantuka-Flores Timur. Menempuhnya dengan perjalanan laut dan darat dari Jakarta, Larantuka baru akan dicapai selama perjalanan tiga hari tiga malam. Menggunakan pesawat terbang tentu akan jauh lebih mudah, memakan waktu kira-kira 4-5 jam perjalanan. Jarak yang jauh dan lagi tempat yang sangat asing bagi Vera dan suaminya, toh tidak menyurutkan semangat mereka untuk tetap berangkat. Entah apa yang membuat keduanya begitu nekat, jauh-jauh pergi ke Larantuka hanya untuk merayakan Paskah. Bicara ramai dan maraknya perayaan Paskah, Jakarta tentu jauh lebih meriah. Tapi, tidak bagi Vera dan suaminya. Vera tetap memilih Larantuka sebagai tempat merayakan misteri Paskah Kristus. Entah apa yang membuat keduanya begitu tertarik, mengorbankan waktu, tenaga dan juga materi untuk berangkat ke Larantuka, di ujung Timur Pulau Bunga itu.

Ya, ke Larantukalah Vera dipanggil Tuhan, setelah ia menyaksikan di Televisi sebuah acara prosesi Patung Tuan Ma, di Larantuka itu. Sebelumnya ia sudah mendengar dari beberapa teman yang sudah kembali dari sana; tetapi belum sepenuhnya ia tanggapi. Hingga setelah menyaksikannya di Televisi hati Vera terketuk untuk mengikuti dari dekat perayaan keagamaan di pulau yang berpenduduk seratus persen Katolik ini. Ia ingin sekali ke Larantuka untuk mengambil bagian langsung pada prosesi Tuan Ma; yaitu prosesi Patung Bunda Maria Berdukacita, yang sedang mencari Yesus anaknya, Tuan Ana. Ia kemudian mencari informasi hingga akhirnya pada Paskah 2009 itu, Vera dan suaminya bisa terbang ke Larantuka, menghadiri dan merayakan Paskah di sana. Tuhan yang mengetuk hati Vera dan tanggapan yang positif atas panggilan Tuhan itu memungkinkan Vera bisa mencapai Larantuka.

Vera adalah salah satu dari sekian banyak umat Katolik dari luar Larantuka, dan lagi terpaut jarak yang sangat jauh ikut mengambil bagian dalam prosesi ini. Bukan lantaran karena eksklusivitasnya, tetapi prosesi ini, memang bukan sekedar perayaan keagamaan Katolik yang umum di mana-mana, tetapi juga melekat dalam tradisi dan budaya setempat. Inilah juga yang membuat perayaan iman ini banyak digemari umat, bukan saja bagi umat Larantuka, tetapi bagi semua umat beriman. Tentu pula, ini bukan sekedar wisata budaya atau rohani tetapi adalah sebuah perayaan iman, di mana terdapat kesempatan bagi umat menjadi lebih dekat dengan Tuhan.

Kalenderium Kegiatan Panitia Lima Abad Tuan Ma

15 Agustus 2010
Agenda : Misa Pengresmian Monumen Mgr. Gabriel Manek, SVD dan Penandatanganan Prasasti Oleh Uskup Larantuka; Mgr. Fransiskus Kopong Kung, Pr.
Tempat : Biara Pusat Tarekat Putri Reinha Rosary (PRR) di Lebao - Larantuka.

25 - 27 Agustus 2010
Agenda : Lomba Paduan Suara
Peserta : Tingkat Dekenat

29 - 30 September 2010
Agenda :  Final Lomba Paduan Suara
Tempat : Gereja Kathedral Reinha Rosary Larantuka

04 - 06 Oktober 2010
Agenda : Triduum Menjelang Perayaan Puncak
Peserta : KGB-KGB se-Keuskupan

07 Oktober 2010
Agenda : Perayaan Puncak Lima Abad Tuan Ma
Uraian Kegiatan :
15:00 Wita = Prosesi Menghantar Patung Maria Alleluia
15:30 Wita = Renungan dan Doa Rosario
16:00 Wita = Misa Puncak Perayaan 5 Abad Tuan Ma
19:00 Wita = Acara Resepsi (Sambutan-Sambutan)
Tempat : Stadion Ile Mandiri Larantuka

Prosesi Jumad Agung - Larantuka 2010

Berbagai peziarah Katolik dari segala penjuru daerah baik dari dalam maupun dari luar negeri berdatangan ke Kota Larantuka untuk mengikuti Prosesi Jumad Agung yang penuh dengan nuansa sakral religius dan sebuah keunikan tersendiri di kota kecil di ujung timur Pulau Flores, kota tua penuh sejarah, Kota Reinha Larantuka.

Beberapa hari sebelum perayaan Prosesi Jumad Agung pada tanggal 2 April 2010, Kota Larantuka mulai dipadati para peziarah. PT. ASDP Kupang sejak tanggal 28 Maret 2010, setiap harinya mengoperasikan dua buah armada ferry untuk mengangkut para penumpang yang mengikuti Semana Santa tujuan Kupang – Larantuka. Begitupun dengan angkutan udara, sangat tinggi jumlah permintaan tiket untuk penerbangan tujuan Larantuka dan tujuan Maumere. Demikian pula halnya dengan arus kendaraan transportasi darat, tampak lebih banyak dari biasanya jumlah kendaraan yang melintas antar kabupaten di Pulau Flores bagian barat menuju Larantuka – Ibukota Kabupaten Flores Timur.

Lima Abad "Tuan Ma" (Bunda Maria) di Larantuka

Uskup Larantuka, Mgr. Frans Kopong Kung, Pr., ketika mengumumkan perayaan Lima Abada Tuan Ma di Larantuka, pada tanggal 07 Oktober 2009 yang lalu, meminta agar Semana Santa menjadi momentum pembaharuan iman dalam ziarah bersama Bunda Maria. Tema umum yang ditetapkan adalah "Berziarah bersama Bunda Maria".

Lima abad Tuan Ma "tinggal" di Larantuka. Dalam rentang waktu yang panjang itu, banyak hal yang telah terjadi berhubungan dengan perkembangan iman umat. Dalam hal penyebaran iman (Katolik), boleh dibilang Larantuka telah menjadi ikon. Nama Kota Larantuka begitu populer menembus batas wilayah. Banyak rasul awam dari Larantuka sudah sejak dulu menjejakkan kaki ke mana-mana menyebarkan iman Katolik. Bukti sejarahnya jelas, Suku-Suku, Marga, Klan asal Larantuka hampir menyebar di mana-mana di wilayah Nusantara, terutama ni NTT.

Berita Katolik:

BUNDA REINHA - Film Dokumenter Metro TV

Kurs Rupiah:

BlogLarantuka Paypal:

 
!-- START OF ADDME LINK --> Search Engine Submission - AddMe